Kamis, 14 April 2011

Menuang air putih

Sebuah negeri dilanda bencana kelaparan. Tanah kering dan tumbuhan mati. Karena kurang makan dan susah minum hewan-hewanpun mulai pada mati bergelimpangan. Melihat bencana ini raja mengintruksikan agar masing-masing warganya mengisi sebuah panci besar yang diletakkan di tengah-tengah ibu kota kerajaan.

Aneh…

Ya, solusi yang aneh. Para pasukan kerajaan pun menyebar ke segenap penjuru negeri untuk menyampaikan intruksi raja itu. Dan sebuah panci raksasa sudah bertengger di tengah-tengah negeri. Setiap warga diperintahkan untuk menuangkan segelas susu di dalam panci itu.
“Semua warga harus melaksanakan perintah ini demi mengatasi krisis negeri kita dari kemusnahan secara perlahan. Barangsiapa melanggar atau tidak melaksanakan maka dia akan merasakan akibat pembangkangannya,” kata seorang prajurit menyampaikan ‘woro-woro’
kerajaan dengan nafas yang ngos-ngosan Senin Kamis karena kehausan.

“Tapi ada syaratnya..” lanjutnya.
“Setiap orang yang menuangkan air susu hendaknya melakukannya sendiri dan tanpa diketahui orang lain. Dia harus memastikan bahwa tidak ada seorangpun yang melihatnya.”

Wah, aneh lagi… pikir setiap warga.


Tapi tidak ada seorangpun yang berani nanya, apalagi protes. Malam harinya masing-masing warga mulai mengendap-ngendap menuju panci itu dengan gelas di tangan. Masing-masing memastikan dirinya bahwa tidak ada seorangpun yang melihatnya. Jika kebetulan ada memergokinya, berbagai alasan spontan diucapkan,

Ah, enggak, mau ngambil air..

Oh, baru saja ambil gelas di tetangga..

Habis buang air..

Dari masjid kok…

Dan dengan berbagai upaya serta masing-masing warga merasa telah menunaikan tugas kerajaan malam terus beringsut digusur cahaya pagi yang berjingkat pelahan. Alam pun bangun dari tidurnya dan bersolek.

Di pagi hari seorang pasukan memeriksa panci besar itu telah penuh, tapi…

“Panci telah penuh paduka..” lapor pasukan kepada raja.

“Oke, saya akan lihat sendiri ke sana untuk memimpin distribusi susu itu kepada warga yang kelaparan.”

Sang raja pun berangkat ke tengah kota didampingi beberapa orang pengawal. Sesampainya di sana ia mengetuk dinding panci itu dengan tangannya, thung-thung,

ia memastikan bahwa panci telah penuh.

Raja tersenyum bangga kepada warganya. Ia mulai naik tangga untuk melihat isinya, dan…

“Gubrak… kenapa isinya kok air semua? mana susunya brow???” bentak raja marah-marah.

Eh ladhala…

Ternyata bukannya penuh dengan susu tapi air putih, bahkan tidak ada susu barang segelaspun di dalam panci raksasa itu. Semua bening kumpling-kumpling.

Kenapa?

Ternyata masing-masing warga bukannya menuangkan segelas susu di panci itu, namun air putih. Masing-masing mereka berpikiran, hanya saya yang menuangkan segelas air, tentu tidak akan mempengaruhi susu yang dituangkan oleh seluruh penduduk di negeri itu, ya hanya dirinya saja.

Ternyata semua berpikir sama, dan semua menuangkan air putih. Dan panci raksasa itu pun berisi air putih.Raja bingung, semua warganya membangkang. Kalau harus dihukum, habislah semua rakyatnya.Setiap orang mengandalkan orang lain.Setiap orang merasa hanya dirinya yang melakukan itu sedang yang lain tidak.Setiap orang menempuh cara yang sama.

Akhirnya kelaparan kian meraja-lela dan kematian menghampiri setiap banyak warga, tanpa kulo nuwun tanpa permisi.

Saudaraku…

Jujurlah pada diri sendiri, apakah anda juga menuangkan air putih?

Jika anda tidak menunaikan pekerjaan dengan baik dalam sebuah group karena mengandalkan rekan-rekan anda telah menunaikan dengan baik, maka anda hanya menuangkan air pituh…

Jika anda membiarkan orang-orang miskin kelaparan karena mengira tentu banyak orang yang sudah membantu mereka maka anda telah menuangkan air putih.

Jika anda tidak selipkan doa untuk kemenangan kaum muslimin di berbagai wilayah konflik karena mengira kaum muslim sudah mendoakan mereka maka anda hanya menuangkan air putih.

Jika anda menyia-nyiakan waktu dan tidak menggunakannya untuk belajar atau berdakwah karena mengira banyak orang yang sudah melakukan tugas itu maka anda hanya menuangkan air putih.

Dan… jika anda tidak sampaikan pesan ini kepada kawan-kawan, anda hanya menuangkan air putih.

Akhukum fillah

Asfuri Bahri

3 Cara Tuhan Mengabulkan Do'a

Sebuah kisah yang cukup menarik dan memiliki makna yang sangat dalam, semoga cerita ini membuat kita semakin beriman kepada-Nya.


SEMUA TERJADI KARENA SUATU ALASAN

Semua dimulai dari impianku. Aku ingin menjadi astronot. Aku ingin terbang ke luar angkasa. Tetapi aku tidak memiliki sesuatu yang tepat.

Aku tidak memiliki gelar. Dan aku bukan seorang pilot. Namun, sesuatu pun Terjadilah.
Gedung Putih mengumumkan mencari warga biasa untuk ikut dalam penerbangan 51-L pesawat ulang-alik Challanger. Dan warga itu adalah seorang guru.

Aku warga biasa, dan aku seorang guru. Hari itu juga aku mengirimkan surat lamaran ke Washington . Setiap hari aku berlari ke kotak pos.Akhirnya datanglah amplop resmi berlogo NASA. Doaku terkabulkan. Aku lolos penyisihan pertama. Ini benar-benar terjadi padaku.
Selama beberapa minggu berikutnya, perwujudan impianku semakin dekat saat NASA mengadakan test fisik dan mental. Begitu test selesai, aku menunggu
dan berdoa lagi. Aku tahu aku semakin dekat pada impianku.

Beberapa waktukemudian, aku menerima panggilan untuk mengikuti program latihan astronot khusus di Kennedy Space Center . Dari 43.000 pelamar, kemudian 10.000 orang, dan kini aku menjadi bagian dari 100 orang yang berkumpul untuk penilaian akhir. Ada simulator, uji klaustrofobi, latihan ketangkasan, percobaan mabuk udara. Siapakah di antara kami yang bisa melewati ujian akhir ini ? ... Tuhan, biarlah diriku yang terpilih, begitu aku berdoa.Lalu tibalah berita yang menghancurkan itu. NASA memilih Christina McAufliffe. Aku kalah. Impian hidupku hancur. Aku mengalami depresi.

Rasa percaya diriku lenyap, dan amarah menggantikan kebahagiaanku. Aku mempertanyakan semuanya. Kenapa Tuhan? ... Kenapa bukan aku? ... Bagian diriku yang mana yang kurang? ... Mengapa aku diperlakukan kejam? ...

Aku berpaling pada ayahku. Katanya, "Semua terjadi karena suatu alasan."

Selasa, 28 Januari 1986, aku berkumpul bersama teman-teman untuk melihat peluncuran Challanger. Saat pesawat itu melewati menara landasan pacu, aku menantang impianku untuk terakhir kali. Tuhan, aku bersedia melakukan apa saja agar berada di dalam pesawat itu. Kenapa bukan aku?.

Tujuh puluh tiga detik kemudian, Tuhan menjawab semua pertanyaanku dan menghapus semua keraguanku saat Challanger meledak, dan menewaskan semua penumpang.
Aku teringat kata-kata ayahku,"Semua terjadi karena suatu alasan."

Aku tidak terpilih dalam penerbangan itu, walaupun aku sangat menginginkannya karena Tuhan memiliki alasan lain untuk kehadiranku di bumi ini.

Aku memiliki misi lain dalam hidup. Aku tidak kalah; aku seorang pemenang.

Aku menang karena aku telah kalah.

Aku, Frank Slazak, masih hidup untuk bersyukur pada Tuhan karena tidak semua doaku dikabulkan.



Tuhan mengabulkan doa kita dengan 3 cara :

1. Apabila Tuhan mengatakan YA
Maka kita akan mendapatkan apa yang kita minta

2. Apabila Tuhan mengatakan TIDAK
Maka kita akan mendapatkan yang LEBIH BAIK

3. Apabila Tuhan mengatakan TUNGGU
Maka kita akan mendapatkan yang TERBAIK sesuai dengan kehendak NYA

Tuhan tidak pernah terlambat, DIA juga tidak tergesa-gesa namun DIA tepat waktu.